Posts

Showing posts from September, 2025

Kebudayaan Kita Sedang Gagap: Menyimak Pidato Karlina Supelli

Image
  Oleh: Hanter Oriko Siregar Di tengah arus pembangunan yang semakin deras dan pasar yang mengatur hampir seluruh lini kehidupan, kebudayaan kita tampak gagap. Bukan karena tidak ada yang memikirkannya, tetapi karena cara kita memperlakukan kebudayaan sering kali keliru. Pidato kebudayaan Karlina Supelli yang berjudul Kebudayaan dan Kegagapan Kita menjadi cermin yang menyakitkan sekaligus penting bagi kita untuk menilai di mana sebenarnya kita berdiri dalam percakapan kebudayaan saat ini. Karlina memulai pidatonya dengan membawa kita menyelami hutan Kalimantan dan kehidupan masyarakat adat Dayak. Ia bercerita tentang rotan yang dirangkai menjadi tikar oleh perempuan Dayak Ngaju, dan serat Doyo yang dipintal menjadi tenun oleh perempuan Dayak Benuaq. Namun, kedua praktik budaya itu kini terancam hilang karena hutan yang menjadi sumber kehidupannya semakin digerus oleh industri ekstraktif. Apa yang Karlina tampilkan bukan sekadar cerita folklor. Ini adalah metafora yang sang...

Gejolak Kehidupan: Catatan dari Pinggiran

Image
Saya menulis ini bukan untuk mengundang rasa kasihan, melainkan sebagai bentuk perenungan dan harapan. Kehidupan yang saya jalani tidak pernah mudah. Sejak kecil, saya dibesarkan dalam keluarga yang serba kekurangan. Orang tua memberi nasihat dan bimbingan sebaik yang mereka mampu, namun tekanan ekonomi dan konflik dalam rumah tangga membuat hidup terasa seperti ruang sempit yang pengap dan sunyi. Dalam lingkungan pergaulan, saya sering menjadi sasaran hinaan dan ejekan. Anak-anak seusia, bahkan yang lebih muda, kerap mempermalukan saya di depan umum. Rasanya, setiap langkah yang saya ambil seolah membawa beban malu dan keterasingan. Ketika teman-teman mulai mengenal teknologi, bermain gitar, mengendarai sepeda motor, dan aktif di media sosial, saya hanya bisa melihat dari kejauhan—tertinggal di tengah derasnya arus globalisasi yang tak terelakkan. Dalam keterasingan itu, saya menarik diri. Saya mengurung diri di rumah selama bertahun-tahun. Kesendirian terasa lebih aman dibandin...

Banyak Jalan Menuju Tujuan: Antara Kebenaran, Keyakinan, dan Kehidupan

Image
Oleh: Hanter Oriko Siregar Dalam dunia matematika, sebuah persoalan memiliki jawaban yang tepat jika syarat-syaratnya jelas. Misalnya, jika dikatakan: "dua ditambah berapa menghasilkan enam belas?", maka jawabannya hanya satu, yakni empat belas. Begitu juga dalam kasus "dua dikali berapa yang menghasilkan enam belas?", jawabannya adalah delapan. Ketika operasi dan syarat ditentukan, maka jawabannya pun menjadi tunggal. Namun bagaimana jika syaratnya dihilangkan dan hanya hasil akhirnya yang dikehendaki? Maka muncullah ribuan kemungkinan: empat kali empat, delapan kali dua, lima belas ditambah satu, dua puluh dikurang empat, dan seterusnya. Tidak ada yang salah, selama hasilnya tetap enam belas. Perbedaan cara bukanlah kesalahan, melainkan bentuk dari keberagaman dalam menemukan kebenaran yang dituju. Analogi sederhana ini menggambarkan kehidupan manusia yang majemuk. Setiap orang, tanpa terkecuali, menginginkan hal yang sama: kebahagiaan, kedamaian, dan kebaik...

Lingkungan Mencengkeram Pola Pikir

Image
Lingkungan adalah elemen penting dalam membentuk pola pikir dan kepribadian manusia. Ia tidak hanya menjadi latar tempat tinggal semata, tetapi juga menjadi sumber pengaruh—baik secara langsung maupun tidak langsung—terhadap nilai, karakter, bahkan arah hidup seseorang. Lingkungan bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan, namun bisa pula menjadi jerat yang menahan potensi seseorang untuk berkembang. Seringkali, seseorang tak menyadari bahwa kebiasaannya, cara berpikirnya, bahkan reaksinya terhadap masalah, sangat dipengaruhi oleh pola lingkungan tempat ia dibesarkan atau hidup saat ini. Pengalaman di Perpustakaan: Ketika Lingkungan Tidak Mendukung Saya pernah berkunjung ke perpustakaan umum di tengah kota Pematang Siantar. Sayangnya, harapan saya untuk menikmati suasana belajar yang tenang justru pupus karena tatanan buku yang berantakan dan musik keras yang diputar di sekeliling ruangan. Buku-buku tidak tersusun sesuai kategori, dan suasananya jauh dari kata kondusif. Alhasi...

Perubahan: Sebuah Kepastian yang Sering Ditolak

Image
" Satu-satunya hal yang pasti dalam hidup ini adalah perubahan itu sendiri ." — Heraklitus Perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Ia bukan pilihan, melainkan kepastian. Segala sesuatu di alam semesta bergerak dalam dinamika: musim berganti, usia bertambah, teknologi berkembang, dan masyarakat berevolusi. Namun justru karena sifatnya yang pasti, perubahan sering kali memunculkan ketidakpastian—dan dari sanalah kekhawatiran manusia bermula.   Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan perubahan dalam berbagai bentuk. Anak-anak tumbuh dewasa, pekerjaan berubah oleh teknologi, relasi sosial menyesuaikan diri dengan zaman. Semua terjadi begitu cepat, dan sering kali kita merasa tertinggal. Namun, ketakutan terhadap perubahan adalah hal yang alami. Manusia pada dasarnya mencari rasa aman dan nyaman. Ketika perubahan datang, apalagi secara mendadak atau drastis, muncul kekhawatiran: apakah saya sanggup menyesuaikan diri? Apa yang akan hilang dari hidup s...

Ketika Undang-Undang Tak Lagi Berpihak pada Rakyat

Image
  Oleh: Hanter Oriko Siregar H OS LAW FIRM, Pengacara Hukum – Jakarta, Indonesia Sejatinya, hukum hadir untuk menjamin keadilan, kesejahteraan, dan ketenteraman masyarakat. Undang-Undang dirancang sebagai wujud nyata perlindungan negara terhadap hak-hak rakyatnya tanpa pandang bulu, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28A–28J UUD NRI Tahun 1945 yang mengatur hak asasi manusia secara menyeluruh. Namun, realitas kerap tak sejalan dengan cita-cita hukum tersebut. Kita menyaksikan semakin banyak produk legislasi yang lahir bukan dari aspirasi rakyat, melainkan dari kompromi politik dan kepentingan segelintir elite penguasa. Legislasi bukan lagi alat untuk memperjuangkan keadilan sosial, melainkan instrumen untuk melanggengkan kekuasaan. Fenomena ini dapat dilihat dari proses pembuatan Undang-Undang yang cenderung tertutup dan minim partisipasi publik. Banyak kebijakan strategis lahir tanpa keterlibatan rakyat sebagai pemilik sah kedaulatan. Akibatnya, lahirlah Undang-Undang yang...

Gejolak Kehidupan

Image
  Pada masa kanak-kanak, saya sangat tekun berdoa. Sebelum makan, saat hendak tidur, bahkan ketika bangun pagi—doa menjadi bagian dari rutinitas yang saya jalani dengan sungguh-sungguh. Di setiap doa, saya tak pernah lupa meminta satu hal yang sama: agar diberi kekuatan untuk menguasai hawa nafsu. Permohonan itu seolah menjadi mantra harian saya. Namun, kini ketika saya dewasa, doa itu mulai terasa seperti ritual yang kosong. Saya mulai bertanya-tanya: apakah doa hanya pelampiasan semu terhadap masalah hidup yang tak kunjung selesai? Saya tumbuh dalam suasana keagamaan yang kuat, dengan pemahaman bahwa doa, kesabaran, dan kepasrahan adalah kunci untuk mengatasi segala masalah. Namun semakin saya dewasa, saya merasa terperangkap dalam doktrin itu. Hidup saya berjalan di tempat. Saya kecewa, merasa doa hanyalah harapan yang digantung tanpa kepastian. Seringkali saya berpikir, jika semua sudah ditentukan Tuhan—bahagia atau menderita, sukses atau gagal—mengapa saya harus berusaha? Pe...