Gejolak Kehidupan

 

Pada masa kanak-kanak, saya sangat tekun berdoa. Sebelum makan, saat hendak tidur, bahkan ketika bangun pagi—doa menjadi bagian dari rutinitas yang saya jalani dengan sungguh-sungguh. Di setiap doa, saya tak pernah lupa meminta satu hal yang sama: agar diberi kekuatan untuk menguasai hawa nafsu. Permohonan itu seolah menjadi mantra harian saya. Namun, kini ketika saya dewasa, doa itu mulai terasa seperti ritual yang kosong. Saya mulai bertanya-tanya: apakah doa hanya pelampiasan semu terhadap masalah hidup yang tak kunjung selesai?

Saya tumbuh dalam suasana keagamaan yang kuat, dengan pemahaman bahwa doa, kesabaran, dan kepasrahan adalah kunci untuk mengatasi segala masalah. Namun semakin saya dewasa, saya merasa terperangkap dalam doktrin itu. Hidup saya berjalan di tempat. Saya kecewa, merasa doa hanyalah harapan yang digantung tanpa kepastian. Seringkali saya berpikir, jika semua sudah ditentukan Tuhan—bahagia atau menderita, sukses atau gagal—mengapa saya harus berusaha?

Pemikiran seperti ini membuat saya lambat, malas, dan terlalu pasrah. Saya merasa Tuhan akan mengatur semuanya, sehingga saya tidak perlu mengambil keputusan besar dalam hidup. Banyak orang pun berpikir serupa. Mereka menanti keajaiban sambil duduk diam, menyandarkan harapan kepada Tuhan semata. Mereka yakin Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga apa pun yang diminta akan dikabulkan, asal doa terus dipanjatkan.

Namun, semakin saya merenung, semakin saya sadar bahwa pemikiran ini melemahkan. Tuhan memang Maha Penyayang, tapi bukan berarti hidup tidak perlu usaha. Saya mulai menyelidiki diri sendiri, mengamati gejolak batin yang muncul dari waktu ke waktu. Saya mulai membaca buku, berdiskusi dengan dosen, orang tua, dan teman-teman. Dari mereka, saya belajar bahwa hidup adalah tantangan. Segala bentuk penderitaan—termasuk hawa nafsu, kegagalan, dan kesulitan—bukanlah kutukan, melainkan bagian dari proses kehidupan.

Saya akhirnya menyadari, bahwa hawa nafsu bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Ia adalah kekuatan batin, dorongan alami, kehendak, dan energi yang bekerja dalam diri manusia. Ia tidak bisa dihilangkan, dan memang tidak seharusnya dihilangkan. Yang perlu kita lakukan adalah mengarahkan dan mengelolanya dengan bijak.

Saat itulah saya mulai memahami bahwa Tuhan tidak membiarkan hawa nafsu lenyap karena memang itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dihadapi, bukan dihindari. Tuhan tidak ingin kita menjadi makhluk pasif, tapi mendorong kita agar tumbuh menjadi pribadi yang sadar, kuat, dan mampu memilih arah hidup sendiri. Ternyata, bukan Tuhan yang harus mengubah keadaan kita—tapi cara pikir dan cara pandang kita sendiri.

Kenyataan hidup memang tidak selalu nyaman. Kadang kita merasa tertinggal, gagal, dan putus asa. Tapi kita sering membenarkan keadaan itu dengan alasan "ini sudah takdir" atau "Tuhan menghendakinya." Kita tidak berusaha keluar dari penderitaan, tapi malah menciptakan narasi pembenaran. Kita terlalu sibuk mengeluh, namun enggan mengoreksi diri. Kita mengembangkan rasa syukur secara pasif, padahal dalam batin kita menyimpan luka dan kegelisahan.

Ketika kita membandingkan diri dengan orang yang lebih menderita, kita merasa cukup. Padahal, itu hanya ilusi agar kita berhenti berkembang. Kita jadi malas menggali potensi diri. Kita berhenti bermimpi besar. Padahal, hidup selalu memberi ruang bagi perubahan—asal kita mau membuka diri terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.

Kini saya percaya bahwa masa depan bukan semata ditentukan oleh Tuhan, tetapi juga oleh pilihan dan tindakan kita sendiri. Tuhan seperti seorang ayah yang membimbing, namun keputusan tetap berada di tangan anaknya. Apa yang kita tabur, itu pula yang kita tuai.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan takdir, berhenti pasrah pada nasib, dan mulai membangun hidup kita sendiri. Mulailah dengan menggali pengetahuan lebih dalam, mengembangkan kemampuan, dan membuka diri terhadap kritik. Jadilah pribadi yang berpikir kritis, karena hanya dengan itu kita bisa tumbuh menjadi manusia seutuhnya.

Gejolak kehidupan tidak akan pernah berakhir, namun cara kita menanggapinya bisa berubah. Hawa nafsu, penderitaan, dan rintangan bukan musuh, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang utuh. Kita tidak perlu membunuh hawa nafsu, tapi memahaminya. Kita tidak harus menolak penderitaan, tapi menjadikannya guru.

Dan di tengah semua itu, kita tetap boleh berdoa—bukan untuk melarikan diri dari hidup, tapi untuk memperkuat langkah kita menjalaninya.

Catatan: "tulisan ini telah pernah dimuat pada Qureta.com pada tanggal 19 Maret 2018 dengan judul "Gejolak Kehidupan" dan ini merupakan salah satu tulisan penulis yang pertama kali dimuat di Media Online. Namun saat ini, terpaksa saya publish kembali pada blogger pribadi dengan sedikit pemutakhiran pada tulisan tersebut, itu dilakukan semata-mata mengingat bahwa media Qureta.com sudah tidak dapat diakses saat ini sehubungan telah terjadi pemblokiran oleh Kominfo pada media tersebut"

Comments

Postingan Populer

Cinta yang Tersembunyi dalam Singkong Rebus

Era AI dan Pergeseran Nilai Kerja Manusia

Papua dan Ketakutan Negara terhadap Kebenaran