Kasih yang Tak Pernah Mengeja
Ada tangan yang selalu menopangku,
demikian juga saudara-saudariku.
Langkahnya menembus angin dan pekat malam,
ia tak berhenti,
meski larut berusaha membujuknya terlelap.
Ia terus berjalan,
menjelajahi sawah, sungai, dan perbukitan,
tak peduli siang atau malam.
Baginya, esok hari
kami tak boleh berhenti belajar
hanya karena perut lapar.
Ia tak mengerti arti kata-kata,
sebab ia buta huruf.
Ia tak paham cara membaca dengan bahasa yang baik.
Namun lewat perbuatan,
ia mengajarkan pendidikan yang paling jujur.
Sorot matanya kadang memantulkan amarah,
keras, seolah ingin menerkam.
Namun di balik itu,
tersimpan pesan yang dalam:
hidup kami jangan seperti hidupnya.
Ia menunjukkan kasih sayang
tanpa rangkaian huruf,
tanpa kalimat yang rapi.
Dalam diam dan pengorbanannya,
ia seolah berkata kepada kami:
jadilah manusia.
#Selamat Ulang Tahun Ayah
Kasih yang Berjalan Tertatih
Saat aku menangis,
ada tangan yang mengulurkan jemarinya,
membasuh air mata
di kala aku menderita.
Ia yang pertama mengajarkanku
arti cinta, kasih,
dan makna kehidupan.
Mengeja huruf demi huruf,
hingga aku paham
untuk mengari kata
dan memahami dunia.
Dalam hati, pikiran, dan doanya,
ia tak pernah berhenti menyemangati,
mengaminkan segala yang terbaik
bagi anak-anaknya.
Tak peduli ia dihujat dan dicerca,
karena apa yang ia makan
dan apa yang ia pakai.
Baginya, yang terpenting
anak-anaknya tumbuh
menjadi manusia seutuhnya.
Ia rela berjalan tertatih,
bukan hanya diterpa sinar matahari
atau derasnya hujan,
tetapi juga di tengah kecaman
orang-orang yang berusaha mewujudkannya.
Malam-malamnya kerap terisi
pertengkaran dengan pikiran sendiri,
hingga air mata
setiap doa yang ia panjatkan.
Itulah ibu—
pejuang kehidupan bagi anak-anaknya.
Tak kenal lelah,
tak kenal waktu.
Baginya,
hanya ada satu tujuan:
yang terbaik untuk anak-anaknya.


Comments
Post a Comment