Cinta yang Tersembunyi dalam Singkong Rebus
"Makanlah apa yang ada di meja. Jangan mencari apa yang tidak ada. Nikmati dan syukuri. Karena kebahagiaan tidak ditentukan oleh apa yang kita makan."
Malam
terhampar sunyi. Aku duduk di teras rumah, memandang jalan yang lengang,
sesekali menengadah ke langit yang seakan menyimpan ribuan cerita. Dalam diam,
aku menyusuri lorong waktu—kembali pada awal mula hidupku, saat aku masih
bersemayam di dalam kandungan ibu.
Sembilan
bulan lamanya aku hidup dari darah dan dagingnya. Dalam diam, aku adalah beban
yang bisa saja mengancam nyawanya. Rasa sakit yang tak terperi harus ia
tanggung hingga aku lahir ke dunia. Penderitaan demi penderitaan ia lalui tanpa
keluh. Bahkan setelah aku lahir, ketergantunganku tak pernah benar-benar usai.
Sejak dalam kandungan, tumbuh, hingga hari ini—aku masih hidup dari kasih dan
pengorbanannya.
Waktu
terus berjalan. Detik menjadi menit, menit menjelma jam, lalu hari dan tahun
saling mengejar. Namun satu hal yang tak pernah berubah: perjuangan kedua orang
tuaku. Hujan dan terik matahari menjadi saksi bisu atas kerja keras mereka demi
kami, anak-anaknya.
Baca juga: Kasih yang Tak Pernah Mengeja
Aku
teringat masa kecil di sebuah desa di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli
Utara. Kami menumpang di rumah paman yang merantau di Sibolga. Hidup kami serba
kekurangan. Tangis sering kali menggantung di dada, bahkan kenangan itu
terkadang terlalu perih untuk diingat. Namun justru di sanalah pelajaran hidup
terukir paling dalam.
Di
rumah kami, nasi adalah kemewahan. Setiap kali makan, ada satu aturan yang tak
boleh dilanggar: “Tidak boleh makan nasi sebelum makan singkong rebus.”
Singkong
rebus, ikan asin, dan sayur daun ubi menjadi menu sehari-hari. Daging dan ikan
laut nyaris tak pernah hadir. Jika ingin merasakannya, kami hanya bisa berharap
pada satu momen dalam setahun—itu pun jika ada keluarga dari luar kota yang
datang.
Kemiskinan
mengajarkan kami untuk menelan keluhan. Setiap kali kami mengeluh, orang tua
akan berkata,
"Dulu,
untuk makan singkong saja kami kesulitan. Kalian masih beruntung bisa makan
nasi."
Kalimat
itu sederhana, namun mampu membungkam segala protes. Kami belajar menerima,
meski sebagai manusia, rasa bosan dan keluh tetap sesekali datang mengetuk.
Baca juga: Krisis Moral di Ruang Akademik
Kemiskinan
juga membawa ujian lain: pertengkaran. Ketika utang menumpuk dan jatuh tempo
tiba, rumah berubah menjadi arena pertarungan emosi. Suara teriakan menggema,
piring beradu, sendok beterbangan—seolah rumah kecil itu menjadi panggung yang
menyajikan kerasnya realitas hidup. Orang-orang desa berdatangan, menyaksikan
tanpa diundang.
Namun
di balik semua itu, kasih sayang tetap bertahan.
Suatu
malam, saat tak ada lagi makanan tersisa, waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB.
Esok hari kami harus bersekolah. Tanpa banyak bicara, bapak pergi ke kebun yang
berjarak sekitar satu kilometer, melewati sungai dan jalan setapak di antara
bukit. Saat itu, kendaraan adalah barang langka—kebanyakan orang berjalan kaki.
Kami
tak tahu kapan ia pulang. Namun pagi harinya, singkong rebus telah tersedia di
meja.
Sederhana.
Tapi penuh cinta.
Air
mataku jatuh tanpa sadar. Aku tersentak dari kenangan. Dalam kesunyian malam,
aku menyadari—ibu dan ayah adalah anugerah terindah dari Tuhan. Ibu adalah
pelindung, malaikat yang nyata dalam hidupku. Bapak adalah guru kehidupan, yang
mengajarkan arti tanggung jawab dan pentingnya pendidikan.
Ia
keras, bahkan tak segan menghukum. Namun di balik itu, tersimpan cinta yang tak
pernah ia ucapkan.
Jam
menunjukkan pukul 00.30 WIB. Malam semakin larut, namun hatiku justru semakin
terang. Ada bisikan halus dari dalam diri:
"Aku
ingin membahagiakan ibu dan bapak."
Aku
menatap langit yang bertabur bintang. Dalam cahaya yang tenang itu, aku
mengerti—cinta orang tua adalah kekuatan terbesar dalam hidupku. Pengorbanan
mereka bukan sekadar kenangan, melainkan kompas yang menuntunku melangkah.
Aku berjanji, dalam diam: menjaga cinta itu tetap hidup, tetap menyala—hingga akhir waktu.
Baca juga artikel lainnya: Bukan Hanya Manusia: Hewan Juga Punya Moral

Comments
Post a Comment