Kenapa Orang Tionghoa Kaya, Orang Batak Pintar, Tapi Nasibnya Bisa Berbeda?
By: Hanter Oriko Siregar
Sama-sama
dikenal cerdas, pekerja keras, dan punya semangat juang tinggi, dua kelompok
masyarakat ini sering kali menjadi perbandingan menarik di tengah kehidupan
sosial Indonesia: orang Tionghoa dan orang Batak.
Keduanya
menjunjung tinggi pendidikan, tetapi hasil akhirnya sering kali berbeda.
Yang satu identik dengan kemapanan ekonomi dan jaringan usaha yang kuat,
sementara yang lain banyak melahirkan profesional cerdas namun tidak selalu
mapan secara finansial. Apa yang membedakan mereka? Jawabannya sederhana, namun
dalam: cara mereka memaknai dan menginvestasikan pendidikan.
Bagi
Orang Tionghoa, Pendidikan Adalah Investasi, Bukan Pengeluaran
Suatu
ketika, saya memiliki seorang klien keturunan Tionghoa yang sedang menghadapi
persoalan hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dari kasus tersebut, ada
satu hal yang sangat membekas dalam pikiran saya—betapa besarnya peran
pendidikan dalam kehidupan mereka.
Pasangan
suami istri ini memiliki dua orang anak yang masih di bawah umur. Saya tidak
akan membahas perkara hukum yang sedang mereka hadapi, melainkan ingin
menyoroti cara pandang mereka terhadap pendidikan. Kedua anak mereka tidak
hanya disekolahkan di salah satu lembaga pendidikan terbaik di Jakarta Pusat,
tetapi juga diwajibkan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah formal.
Menariknya,
kursus-kursus tersebut bukan sekadar untuk gaya hidup atau gengsi sosial.
Tujuannya jauh lebih dalam—agar pendidikan menjadi sarana untuk mengasah bakat
dan menggali potensi yang ada di dalam diri masing-masing anak mereka.
Anak-anak
mereka mengikuti berbagai kegiatan tambahan seperti: Kelas Coding, Kelas Tenis,
Kelas Matematika Sakamoto; Kelas Piano, Chinese CLC, Coding Robotics, kursus
bahasa Inggris dan Kelas Berenang. Jika dijumlahkan, total biaya pendidikan dan
kursus yang mereka keluarkan mencapai kurang lebih Rp2,5 miliar per tahun.
Padahal, usia kedua anak tersebut masih sangat muda: yang satu duduk di bangku
kelas 2 SD, dan yang satunya lagi masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK).
Artinya,
sejak dini mereka sudah secara sadar dan terencana mendidik anak-anaknya untuk
memiliki berbagai keahlian—tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga
terampil dan percaya diri. Bayangkan, anak-anak kita mau bersaing dengan mereka
kedepannya, apa yang akan terjadi, jelas mereka 10 langkah jauh di depan.
Pengalaman
serupa juga pernah saya temui di Kota Medan. Seorang keluarga Tionghoa di sana
bahkan menyewa satu guru privat khusus untuk mendampingi anak-anak mereka
belajar di rumah. Mereka tidak mempermasalahkan berapa besar biaya yang harus
dikeluarkan. Bagi mereka, yang terpenting adalah anak-anak memiliki kemampuan
dan keterampilan yang membedakan mereka dari anak-anak lain.
Dengan
cara ini, para orang tua merasa tenang, karena yakin bahwa di masa depan,
anak-anak mereka akan mampu berdiri sendiri dan bersaing di tengah dunia yang
semakin kompetitif dan tidak pasti.
Dari
situ saya belajar satu hal penting: tidak mungkin anak-anak lain dapat bersaing
dengan mereka jika tidak memiliki kesiapan yang sama. Sejak kecil, anak-anak
Tionghoa telah dibekali berbagai keterampilan, dibentuk dengan disiplin, dan
ditanamkan keyakinan bahwa pengetahuan adalah kekuatan utama untuk bertahan dan
maju dalam kehidupan.
Mereka
tumbuh dengan pemahaman bahwa kesuksesan tidak datang dari warisan harta,
tetapi dari warisan pendidikan dan kemampuan diri. Dan inilah yang membuat saya
semakin yakin—bahwa pendidikan bukan hanya jalan menuju kesuksesan, tetapi juga
jaminan masa depan yang sesungguhnya.
Di
banyak keluarga Tionghoa, pendidikan dianggap sebagai bentuk investasi paling
berharga—bahkan lebih penting daripada rumah atau mobil. Sejak anak masih di
Taman Kanak-Kanak, orang tua sudah menyiapkan dana pendidikan bertahun-tahun ke
depan, lengkap dengan rencana kursus tambahan, pelatihan bahasa, hingga
kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang perkembangan anak.
Tidak
jarang, biaya pendidikan mereka mencapai ratusan juta atau miliyaran rupiah per
tahun. Namun, bagi mereka, itu bukan bentuk kemewahan—melainkan strategi hidup.
Mereka memahami bahwa dunia terus berubah, dan satu-satunya cara agar anak bisa
bertahan dan unggul adalah dengan mempunyai ilmu, karakter, dan kemampuan
berpikir kritis.
Pendidikan bagi keluarga Tionghoa tidak berhenti di ruang kelas. Anak-anak juga diajarkan disiplin, tanggung jawab, dan nilai kerja keras sejak kecil. Mereka belajar bahwa sukses tidak datang dari warisan, tapi dari kemampuan mengelola ilmu dan waktu. Anak diajak ikut membantu usaha keluarga, mengatur uang saku sendiri, hingga berpikir tentang peluang bisnis kecil. Dari sinilah terbentuk mentalitas “pekerja sekaligus pemimpin”—sebuah kombinasi yang menjadi akar kemajuan mereka.
Bagi
Banyak Keluarga Batak, Pendidikan Adalah Kebanggaan
Di
sisi lain, masyarakat Batak punya nilai luhur yang luar biasa dalam memandang
pendidikan. Pepatah terkenalnya adalah, “Anakkon hi do hamoraon di au” —anak
adalah kekayaanku—menunjukkan betapa tingginya posisi pendidikan dalam budaya
Batak. Banyak orang tua Batak rela menjual tanah, ternak, bahkan harta terakhir
demi memastikan anaknya bisa kuliah.
Dan
memang, banyak orang Batak berhasil menembus dunia profesional: menjadi
pengacara, dokter, pejabat, dosen, dan akademisi ternama. Mereka dikenal
berani, tegas, dan memiliki daya juang luar biasa. Namun, yang sering menjadi
pembeda adalah kurangnya kesinambungan investasi setelah pendidikan
formal selesai.
Banyak
keluarga berfokus pada gelar dan ijazah, tetapi tidak selalu menyiapkan modal
atau jaringan agar anak bisa melangkah lebih jauh setelah lulus. Pendidikan
berhenti di kampus, bukan berlanjut pada pembangunan karier dan kemampuan
manajerial.
Sementara
keluarga Tionghoa justru memastikan anak tidak hanya belajar, tapi juga mampu
mengelola hasil belajar itu menjadi sumber kehidupan. Mereka tidak hanya
membiayai kuliah, tapi juga menyiapkan ekosistem: modal usaha kecil, relasi
bisnis, dan mentorship dari keluarga atau komunitas. Itulah mengapa setelah
kuliah, banyak anak Tionghoa langsung bisa berdiri di atas kaki sendiri—bukan
hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan kerja.
Pendidikan
Sebagai Jalan Hidup, Bukan Gaya Hidup
Masalah
terbesar dalam cara sebagian masyarakat memandang pendidikan adalah
menjadikannya simbol status, bukan kebutuhan hidup. Sekolah bagus dipilih
karena gengsi, bukan karena kualitas kurikulumnya. Kursus diambil karena tren,
bukan karena relevansi dengan masa depan anak. Padahal, keluarga yang
sungguh-sungguh menanamkan nilai pendidikan akan melihat setiap rupiah yang
dikeluarkan sebagai investasi jangka panjang, bukan pengeluaran musiman.
Keluarga
Tionghoa jarang mengeluh soal biaya pendidikan. Mereka sadar, inflasi akan
menaikkan biaya setiap tahun, dan mereka siap menghadapinya. Yang lebih penting
bagi mereka bukan angka nominalnya, tapi hasil akhirnya: anak-anak yang tumbuh
percaya diri, kritis, dan siap menghadapi tantangan global.
Mereka
tidak menunggu anak pintar baru disekolahkan—tapi mendidik anak agar menjadi
pintar melalui kesempatan yang terus dibuka.
Belajar
dari Dua Etos Besar
Dari
masyarakat Batak, kita bisa belajar tentang semangat juang tanpa batas dan
keinginan kuat untuk memperbaiki nasib lewat pendidikan. Dari masyarakat
Tionghoa, kita belajar tentang disiplin, perencanaan jangka panjang, dan
kesinambungan antar generasi. Bayangkan jika dua nilai ini digabung: semangat
belajar tanpa menyerah dari Batak dan strategi investasi pendidikan dari
Tionghoa. Hasilnya akan luar biasa—generasi Indonesia yang bukan hanya rajin,
tapi juga terarah dan berdaya saing global.
Keduanya
sebenarnya memiliki akar nilai yang sama: keyakinan bahwa masa depan ditentukan
oleh ilmu. Namun, yang satu menjalankannya dengan sistem, yang lain dengan
semangat. Kita hanya perlu menggabungkan keduanya agar bangsa ini tidak hanya
punya orang pintar, tapi juga banyak orang berhasil.
Warisan
Terbaik Adalah Ilmu, Bukan Harta
Pada
akhirnya, ukuran keberhasilan orang tua bukan seberapa banyak harta yang
ditinggalkan, melainkan seberapa siap anak menghadapi hidup dengan bekal
pengetahuan dan karakter yang kuat. Orang Tionghoa sudah membuktikan bahwa
kekayaan sejati bukan berasal dari emas atau tanah, tapi dari investasi yang
mereka tanam di kepala dan hati anak-anak mereka.
Dan di situlah letak pelajaran terbesar bagi kita semua: kalau ingin anak-anak kita maju, jangan ragu berinvestasi pada hal yang paling mahal sekaligus paling berharga—pendidikan.



Comments
Post a Comment