Mahasiswa dan Topeng Intelektual
By: Hanter Oriko Siregar
Kata
“mahasiswa” sering kali diucapkan dengan nada kebanggaan. Ia disematkan kepada
mereka yang menempuh pendidikan tinggi, yang diharapkan menjadi kaum
terpelajar, agen perubahan, dan pewaris masa depan bangsa. Namun, sebutan yang
agung itu perlahan kehilangan maknanya.
Saya
sering bertanya kepada diri sendiri: apakah benar mahasiswa hari ini masih
pantas disebut demikian? Mahasiswa kerap digambarkan sebagai sosok kritis dan
ilmiah. Tetapi, realitas yang tampak sering kali justru bertolak belakang.
Banyak yang terjebak dalam formalitas status tanpa benar-benar memahami
tanggung jawab moral di baliknya.
Kata
“maha” dalam “mahasiswa” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “besar”,
“mulia”, atau “agung”. Dalam bahasa Indonesia modern, “maha” hanya disandingkan
dengan dua kata: “Mahakuasa” dan “Mahasiswa”. Jika Mahakuasa adalah sebutan
bagi Tuhan, maka Mahasiswa mestinya menjadi sebutan bagi manusia yang berupaya
mencari dan menegakkan kebenaran melalui ilmu. Namun, apakah kita benar-benar
hidup sesuai makna luhur itu?
Menjadi
mahasiswa seharusnya bukan sekadar menyandang status akademik, melainkan
memikul tanggung jawab sosial. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen
perubahan—agent of change—yang membawa gagasan, membangun kesadaran, dan
menggerakkan perbaikan bagi masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, setiap
mahasiswa memiliki beban moral: ia dituntut untuk berpikir, bersikap, dan
bertindak sesuai nurani keilmuan.
Sayangnya,
banyak di antara kita yang lebih sibuk menyebut diri “mahasiswa” tanpa
menyadari makna dan konsekuensinya. Kita berani berkata lantang bahwa mahasiswa
harus kritis, tetapi sering kali tidak memahami arti “kritis” itu sendiri.
Kritis bukan berarti sekadar bersuara keras atau gemar mengkritik, melainkan
berpikir tajam, sistematis, dan mampu memberi alternatif solusi. Kritik tanpa
tawaran jalan keluar hanyalah bentuk keluhan; dan keluhan tanpa dasar ilmiah
tidak berbeda dengan ocehan tanpa makna.
Sikap
kritis mestinya diiringi dengan kedalaman analisis. Seorang mahasiswa yang
benar-benar ilmiah tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Ia memahami
bahwa apa yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan kebenaran yang
sesungguhnya. Karena itu, ia akan menelaah persoalan dari berbagai sudut
pandang, menguji argumen dengan logika, dan mendasarkan pendapatnya pada data
dan pengetahuan yang sahih.
Sayangnya,
di tengah arus informasi dan opini yang serba cepat, banyak mahasiswa justru
tergoda untuk bersikap instan. Kritik diungkapkan tanpa kajian, pernyataan
dilempar tanpa tanggung jawab, dan keberanian sering kali tidak diiringi oleh
kebijaksanaan. Akibatnya, peran mahasiswa sebagai kontrol sosial kehilangan
wibawanya. Mahasiswa yang semestinya menjadi panutan justru tampak seperti
massa yang reaktif—lebih sibuk menilai, tetapi enggan memperbaiki.
Lebih
jauh lagi, ada fenomena yang patut disesalkan: sebagian mahasiswa mengenakan
“topeng” intelektual. Mereka tampak lantang dalam berbicara soal kebenaran dan
keadilan, namun perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai itu. Dalam forum
diskusi mereka bicara idealisme, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari
mudah tergoda oleh kepentingan sempit. Inilah yang saya sebut sebagai “malulah
mengenakan topeng.” Sebab, di balik topeng itu, kita sedang menipu diri
sendiri.
Mahasiswa
sejati bukanlah mereka yang pandai berbicara, melainkan mereka yang berani
berpikir dan bertindak dengan dasar yang benar. Ia tidak hanya mengkritik,
tetapi juga mencari solusi. Ia tidak hanya menuntut perubahan, tetapi juga
berusaha menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Mahasiswa yang demikian
akan selalu resah melihat ketimpangan, tetapi keresahannya diwujudkan dalam
kerja nyata, bukan sekadar retorika.
Sungguh
ironis bila seorang mahasiswa berteriak lantang menuntut keadilan sosial,
tetapi lalai berlaku adil dalam kelompoknya sendiri. Ironis pula bila mahasiswa
menyerukan kejujuran ilmiah, namun masih menyontek atau meniru tulisan orang
lain. Bila dalam lingkungan akademik saja kita gagal menjaga integritas,
bagaimana mungkin kelak kita mampu memimpin masyarakat dengan kejujuran?
Kita
sering menyebut diri “calon pemimpin bangsa”. Tapi menjadi pemimpin bukan
sekadar soal jabatan atau kekuasaan; ia soal integritas dan kecakapan berpikir.
Jika di ruang akademik saja kita menjadi bagian dari masalah—tidak jujur dalam
tugas, tidak konsisten dalam nilai, tidak disiplin dalam tanggung jawab—maka
sulit membayangkan kita bisa menjadi pemimpin yang membawa perubahan nyata bagi
negeri ini.
Oleh
karena itu, sudah saatnya mahasiswa memperbarui cara berpikir dan bertindak.
Berhentilah memakai topeng intelektual. Jadilah diri sendiri dengan kesadaran
untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Bersikaplah kritis, tetapi juga
rendah hati. Gunakan ilmu untuk mencerahkan, bukan untuk menyombongkan diri.
Kritiklah dengan data dan nalar, bukan dengan amarah. Dan yang terpenting,
lakukan sesuatu yang nyata, sekecil apa pun, demi kebaikan bersama.
Mahasiswa
adalah harapan bangsa. Namun harapan itu akan menjadi beban bila kita hanya
bersembunyi di balik retorika. Ilmu yang sejati selalu menuntun pada kearifan,
bukan kesombongan. Jika kita belum mampu berpikir dan bertindak untuk perubahan
yang lebih baik, maka setidaknya kita harus jujur mengakui bahwa kita masih
belajar menjadi mahasiswa yang sesungguhnya.
Malulah
mengenakan topeng, sebab topeng hanya menutupi wajah, bukan menutupi kekosongan
pikiran. Mahasiswa sejati tidak butuh pengakuan—ia cukup membuktikan lewat
tindakan, gagasan, dan ketulusan. Dan barangkali, ketika kita benar-benar
memahami makna itu, baru layak kita menyebut diri: saya seorang mahasiswa.
Catatan:
Tulisan
ini pernah dimuat di Qureta.com pada Tanggal, 15 Maret 2018 dengan judul
"Malu Mengenakan Topeng”.

Comments
Post a Comment