Posts

Bukan Hanya Manusia: Hewan Juga Punya Moral

Image
Selama ribuan tahun sebelum kita muncul, hewan-hewan sosial — yang hidup dalam masyarakat dan bekerja sama untuk bertahan hidup — telah menciptakan budaya yang dijiwai oleh etika. Pada suatu hari cerah di Panama City Beach, Florida, saat liburan musim semi 2022, terjadi sebuah peristiwa yang mengejutkan banyak orang. Seorang polisi bertubuh besar terlihat sangat marah dan berteriak pada seorang wanita berkulit muda gelap yang mengenakan bikini. Wanita itu pergi, tetapi polisi tersebut mengejarnya bersama anjing polisi K-9 miliknya. Situasi menjadi kacau, banyak orang berkumpul dan berteriak-teriak. Seorang pemuda kulit hitam yang tampak masih sangat muda mencoba menenangkan keadaan. Namun, polisi itu justru menangkap leher belakang pemuda tersebut, membantingnya ke tanah, dan menahannya dengan kasar. Para penonton berteriak bahwa pemuda itu tidak melakukan kesalahan apa pun. Dalam situasi tegang ini, sesuatu yang tidak terduga terjadi: anjing polisi tersebut justru menyerang mereka...

Kasih yang Tak Pernah Mengeja

Image
  Ada tangan yang selalu menopangku, ‎demikian juga saudara-saudariku. ‎Langkahnya menembus angin dan pekat malam, ia tak berhenti, ‎meski larut berusaha membujuknya terlelap. ‎ Ia terus berjalan, ‎menjelajahi sawah, sungai, dan perbukitan, ‎tak peduli siang atau malam. ‎ ‎Baginya, esok hari ‎kami tak boleh berhenti belajar hanya karena perut lapar. ‎ ‎Ia tak mengerti arti kata-kata, ‎sebab ia buta huruf. ‎Ia tak paham cara membaca dengan bahasa yang baik. Namun lewat perbuatan, ‎ia mengajarkan pendidikan yang paling jujur. ‎ ‎Sorot matanya kadang memantulkan amarah, ‎keras, seolah ingin menerkam. Namun di balik itu, ‎tersimpan pesan yang dalam: ‎hidup kami jangan seperti hidupnya. ‎ ‎Ia menunjukkan kasih sayang tanpa rangkaian huruf, tanpa kalimat yang rapi. ‎Dalam diam dan pengorbanannya, ‎ia seolah berkata kepada kami: jadilah manusia. #Selamat Ulang Tahun Ayah Kasih yang Berjalan Tertatih Saat aku menangis, ‎ada tangan yang mengulurkan jemarinya, ‎membasuh air mata di kala aku ...

Kenapa Orang Tionghoa Kaya, Orang Batak Pintar, Tapi Nasibnya Bisa Berbeda?

Image
By: Hanter Oriko Siregar Sama-sama dikenal cerdas, pekerja keras, dan punya semangat juang tinggi, dua kelompok masyarakat ini sering kali menjadi perbandingan menarik di tengah kehidupan sosial Indonesia: orang Tionghoa dan orang Batak. Keduanya menjunjung tinggi pendidikan, tetapi hasil akhirnya sering kali berbeda. Yang satu identik dengan kemapanan ekonomi dan jaringan usaha yang kuat, sementara yang lain banyak melahirkan profesional cerdas namun tidak selalu mapan secara finansial. Apa yang membedakan mereka? Jawabannya sederhana, namun dalam: cara mereka memaknai dan menginvestasikan pendidikan. Bagi Orang Tionghoa, Pendidikan Adalah Investasi, Bukan Pengeluaran Suatu ketika, saya memiliki seorang klien keturunan Tionghoa yang sedang menghadapi persoalan hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dari kasus tersebut, ada satu hal yang sangat membekas dalam pikiran saya—betapa besarnya peran pendidikan dalam kehidupan mereka. Pasangan suami istri ini memiliki dua orang anak y...

Pendidikan, Kolonialisme, dan Krisis Identitas: Refleksi Pemikiran Tokoh Minke dalam Bumi Manusia

Image
By: Hanter Oriko Siregar Dalam dunia kolonial Hindia Belanda, ketika bangsa pribumi belum memiliki suara atas tanah airnya sendiri, lahirlah sosok Minke — seorang pelajar muda Jawa yang menuntut ilmu di sekolah Belanda. Melalui dirinya, Pramoedya Ananta Toer menghadirkan pergulatan batin yang sangat manusiawi: antara kekaguman terhadap ilmu dan kemajuan Barat, serta kesadaran akan akar kebangsaan dan martabat diri sebagai orang Indonesia. Kutipan awal dari Bumi Manusia menggambarkan dengan jelas awal perjalanan spiritual dan intelektual Minke: seorang pemuda yang berpendidikan tinggi, modern, dan kritis, namun masih terombang-ambing di antara dua dunia — Timur dan Barat. Novel ini menyoroti bagaimana pendidikan dan pengetahuan dapat menjadi pedang bermata dua. Minke sangat mengagumi ilmu pengetahuan Barat. Ia menyebutnya sebagai “restu yang tiada terhingga indahnya.” Baginya, ilmu memberi kekuatan, kebebasan berpikir, dan membuka jendela dunia. Ia memuja kemajuan teknologi seperti...

Mahasiswa dan Topeng Intelektual

Image
By: Hanter Oriko Siregar Kata “mahasiswa” sering kali diucapkan dengan nada kebanggaan. Ia disematkan kepada mereka yang menempuh pendidikan tinggi, yang diharapkan menjadi kaum terpelajar, agen perubahan, dan pewaris masa depan bangsa. Namun, sebutan yang agung itu perlahan kehilangan maknanya. Saya sering bertanya kepada diri sendiri: apakah benar mahasiswa hari ini masih pantas disebut demikian? Mahasiswa kerap digambarkan sebagai sosok kritis dan ilmiah. Tetapi, realitas yang tampak sering kali justru bertolak belakang. Banyak yang terjebak dalam formalitas status tanpa benar-benar memahami tanggung jawab moral di baliknya. Kata “maha” dalam “mahasiswa” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “besar”, “mulia”, atau “agung”. Dalam bahasa Indonesia modern, “maha” hanya disandingkan dengan dua kata: “Mahakuasa” dan “Mahasiswa”. Jika Mahakuasa adalah sebutan bagi Tuhan, maka Mahasiswa mestinya menjadi sebutan bagi manusia yang berupaya mencari dan menegakkan kebenaran melalui ...

Krisis Moral di Ruang Akademik

Image
By: Hanter Oriko Siregar  Pendidikan adalah pilar utama peradaban bangsa. Di dalamnya tertanam harapan agar manusia tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan berintegritas. Namun, kenyataan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia masih jauh dari cita-cita itu. Di balik megahnya gedung kampus dan jargon akademik, tersimpan berbagai praktik yang mencederai nilai-nilai pendidikan: ketidakprofesionalan pengajar, komersialisasi nilai, manipulasi data, dan diskriminasi terhadap mahasiswa kurang mampu. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian lembaga pendidikan tinggi kita belum benar-benar mendidik. Krisis profesionalisme dan etika akademik menjadi persoalan mendasar yang sulit diabaikan. Masih banyak dosen yang tidak menunjukkan komitmen sebagai pendidik, bahkan ada yang tetap dipertahankan meski secara kompetensi maupun kondisi fisik sudah tidak layak mengajar. Lebih memprihatinkan, jabatan akademik terkadang disalahgunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Praktik ...

Mimpi Tak Akan Datang Bila Diri Tak Berubah

Image
By: Hanter Oriko Siregar Sejak kecil, kita diajarkan untuk bermimpi. Orang tua berpesan agar kita menjadi orang sukses, berguna bagi sesama, dan selalu menebar kebaikan. Nasehat itu terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan harapan yang besar: agar anak-anak mampu hidup lebih baik dari orang tuanya. Namun, harapan kadang berhadapan dengan kenyataan yang jauh berbeda. Tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung nilai-nilai baik. Sebagian justru tumbuh di tengah kebiasaan yang kontradiktif—di mana ucapan tentang kebaikan tak selalu sejalan dengan tindakan. Dalam kondisi seperti ini, anak mudah terjebak dalam pola buruk yang diwariskan lingkungannya sendiri. Pepatah lama berkata, “orang buta tidak dapat menuntun orang buta.” Jika orang tua gagal memberi teladan, sulit berharap anak dapat berjalan di jalan yang benar. Keluarga sejatinya adalah sekolah pertama yang membentuk karakter manusia. Perilaku anak lebih banyak dipelajari dari apa yang ia lihat, bukan sekada...